Mimpi Yang Menghidupkan


Aku Ara…
Ah, apalagi yang harus ku ceritakan padamu, kawan. Tidak ada yang istimewa. Dan aku terlalu malu berbicara banyak tentang diriku, karena aku benar-benar belum apa-apa. Tapi, hari ini berbeda. Aku merasa bersyukur dan ingin sekali berbagi denganmu. Agar engkau bisa meng-aaminkan harapanku. Semoga Allah membukakan jalan, dan memberi hati yang kuat untuk mencapainya.

Kawan, mari kukisahkan tentang mimpiku beberapa tahun silam. Juga tentang tentang mimpi yang baru saja kulukiskan. Aku menamainya mimpi yang menghidupkan.

Bel pergantian jam berbunyi. Kami pun segera merapikan peralatan praktek yang baru saja digunakan. Seorang guru muda tergopoh-gopoh memasuki kelas. Ia menyandang ransel, tangan kanannya membawa perangkat infokus, dan tangan kirinya memegang miniature tata surya. Aku terpana, karena ia terlihat semakin keren dengan perlengkapan mengajarnya itu, serius. Aku menyukainya. Belum lama ia mengajar di kelasku. Tapi sejak pertemuan pertama, aku jadi begitu merindukan pelajaran fisika. Ia pandai membawa diri dan selalu mengonsep setiap pertemuan, membungkus fisika dengan hal-hal luar biasa. Semakin kami penasaran, tatapannya semakin nakal dan senyumnya semakin mengembang.

“Murid-murid, jika besar nanti siapa yang ingin jadi antariksawan?”

Tidak ada satupun yang menunjuk. Beberapa terlihat ragu-ragu. Aku juga tak tertarik. Kupikir, menjadi antariksawan benar-benar melelahkan dan resikonya terlalu besar. Bunda, begitu kami memanggilnya, kemudian memulai diplomasinya. Ia bercerita penuh semangat tentang misi luar angkasa. Tentang bagaimana antariksawan bertahan hidup dalam ruang hampa, tentang kecilnya kita dalam galaksi maha besar, tentang susunan bintang-bintang, tentang fenomena jagad raya, keteraturannya, aurora, lubang hitam hingga relativitas waktu. Lalu beliau memperlihatkan video singkat yang membuat kami tak henti berdecak kagum. Masya Allah, jagad raya ini benar-benar karya luar biasa.

Sejak saat itu, aku ingin menjadi antariksawan agar bisa berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Aku mengumpulkan gambar dan informasi tentang jagad raya lalu menempelkannya di dinding kamar. Aku mimpi pergi ke markas besar NASA di Amerika.

Aku serius memasang space suit-ku. Seorang teknisi membantu mengecek kelengkapannya. Parasut, oksigen, air dan kebutuhan lainnya siap. Ah..ini benar-benar berat tapi aku suka. Warna orange-nya yang hangat dengan kombinasi silver membuatnya tampak manis.

Miss Ara, you are ready now..” lapor teknisi itu.

“Keep Focus, Don’t be panic,, okay?” Mr. Alex terus mengingatkan. Ia adalah penanggung jawab misi ini. Dan ia sangat profesional. Baginya, tercapainya misi adalah yang utama dan keselamatan team yang pertama. Aku tak ingin kalah darinya. Persiapanku juga harus matang. Ku periksa lagi perlengkapanku, stethoscope dan obat-obatan siap. Ku perhatikan wajah rekanku satu persatu. Mereka tampak sangat bahagia. Seperti tak ingin ambil pusing, apapun bisa terjadi 5 menit, 10 jam, atau 2 hari kedepan. Tak ada yang tahu, selain Ia Yang Maha Tahu.

Kawan, realitanya kini aku bukanlah seorang dokter. Aku melanjutkan studi dibidang yang tak terlalu ku kuasai, teknik informatika. Di semester-semester awal, bertahan disini terasa begitu menyesakkan. Bergulat dengan angka 1 dan 0, kode-kode program yang lebih sering sulit dicerna akal, koneksi IP yang terus saja unreachable, hingga momok ‘error’ yang akan tampil jika program yang dibuat ketinggalan titik koma. Dalam kuliah, aku tak pernah menonjol seperti waktu SMA dulu. Nilaiku pas-pasan. Untungnya aku cukup rajin hadir. Meski tak pernah benar-benar fokus, adalah satu dua materi yang berhasil tersimpan di memori.

Semakin lama, semangatku semakin menurun. Rasanya jenuh, lelah, dilema. Seperti mati, aku juga kehilangan sebagian besar mimpi-mimpi yang sudah ku rancang saat SMA dulu. Entah mulai kapan. Aku berjalan kemana orang berjalan. Aku berhenti ketika orang berhenti. Tak ada tujuan pasti. Semuanya terilhat samar. Mencoba ini, mencoba itu tak ada yang jadi. Bahkan usahaku berbuat lebih baik, hasilnya tak sesuai harapan. Seolah-olah aku tak boleh berbuat baik. Positif, kondisiku benar-benar complicated. Parahnya, entah itu perasaanku saja atau benar nyata, aku juga mulai kehilangan kepercayaan teman-teman. Tak pernah lagi dilibatkan ketika ada acara di kampus. Komunikasi kami tak se-intens dulu. Dan aku semakin tertinggal jauh di belakang, tersudut, dan tak terlihat.

Tak ada lagi yang benar-benar bisa ku percaya, selain bagian diriku yang lain. Hati yang masih setia menjawab tanya. Akal yang senantiasa mengajak membaca tanda-tanda. Aku semakin mengenal diriku sendiri. Aku tak punya apa-apa. Tapi yang ku tahu, selama aku berjalan di jalan-Nya membersamai-Nya, aku akan baik-baik saja, aku akan mengistimewa.

Hari itu, Ramadhan pertama. Tua muda bergembira menjalankan puasa. Masjid-masjid dihidupkan. Aktifitas ibadah menggeliat. Saat senja datang, aroma lezat sajian berbuka membumbung di udara. Siap menggoyang rongga-rongga yang sejak matahari terbit menahan lapar dan dahaga.

Lalu, tiba-tiba dunia digegerkan oleh pemberitaan media. Israel semakin gencar memblokade masjidil aqsa di Palestina. Rumah-rumah warga dipagari kawat duri hingga ribuan meter panjangnya. Tak ada yang boleh memasuki masjid suci kedua umat islam itu. Tak boleh ada kegiatan ibadah. Setiap warga yang mendekat, harus menghadapi pasukan-pasukan berbadan kekar lengkap dengan senjata. Jika saja ada yang berani melawan, peluru-peluru panas siap mendarat di tubuh mereka tanpa ampun, tanpa pandang bulu. Dan ultimatum itu dikeluarkan tepat pada ramadhan pertama, saat hasrat mendekat pada sang Pencipta sedang di puncak-puncaknya, saat jiwa bergelora menggapai surga, saat janji-janji kemenangan terasa begitu nyata. Ultimatum itu menorehkan luka teramat dalam di hati umat islam Palestina. Memanggil jiwa-jiwa perindu syahid, menjemput peluang emas memasuki surga tanpa hisab. Serta merta mereka angkat senjata. Melakukan perlawanan demi pembebasan tanah yang tertawan. Bertamengkan tubuh ringkih yang telah mati rasa, mereka hadapi serangan lawan dengan senjata seadanya. Mereka mati mulia.

Lihatlah berita di TV-TV nasional, kawan. Jasad-jasad mereka bergelimpangan, dengan luka menganga bersimbah darah dan tubuh yang tak lagi utuh. Setiap hari, jumlahnya semakin bertambah. Lihatlah si kecil yang masih merah, anak-anak yang mungkin belum pernah melihat dunia yang indah dan perempuan-perempun yang sedang hamil tua. Mereka juga di sana.

Aku iba, juga iri karena mereka menemui Pencipta-Nya dengan sebaik-baiknya pertemuan. Batinku tergerak. Jiwaku berontak. Jika aku terlalu lama diam, membiarkan diri terkungkung dalam jenuh dan penat tak berkesudahan, aku benar-benar akan rugi, amat sangat rugi. Mereka sudah memesan tempat-tempat terbaik di sisi Tuhan-Nya. Dan aku khawatir, tempatku tersisa di sisi-sisi terpinggir, atau bahkan tak punya sama sekali tempat di sana.

Palestina.. Terima kasih telah mengajari kami tentang mimpi. Bahwa mimpi tak sepatutnya dibatasi. Membiarkan imajinasi-imajinasi itu membumbung sampai ke langit, tapi tetap realistis dan sadar ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Bahwa mimpi sepenuhnya tentang pilihan untuk melepas atau berjuang. Berjuang untuk membuktikan bahwa rintangan-rintangan yang ada sejatinya untuk membuat kita mendewasa dan mengistimewa. Dan tentang sejauh mana kita tetap memberi arti meski dalam keterbatasan yang sangat.

Kawan, mari kubisikkan sesuatu. Ini rahasia. Aku tertampar. Dan aku malu. Tapi ku tahu aku masih punya kesempatan. Ku rawat lagi mimpi-mimpi yang sempat layu. Membuang bagian-bagian yang tak mungkin berbuah. Menyiraminya setiap hari. Lalu memberinya pupuk terbaik dengan komposisi yang seimbang. Aku memilih berjuang. Menyelesaikan apa yang sudah ku mulai dengan sebaik-baik upaya yang mampu ku lakukan. Menyingkirkan lelah dan jenuh. Menyingkirkan ragu dan memilih percaya bahwa janji-Nya nyata.

Aku memasukkan jemariku ke dalam kantong jaket. Mengepalkannya kuat-kuat dan mendekapkannya ke tubuh mungilku. Entah berapa lapis jaket yang sudah kukenakan, namun tak juga mampu melawan suhu udara yang semakin dingin. Sedingin ucapan professor tempo hari. Ia bilang proyek ku terlalu sederhana. Tidak berkelas. Sama sekali belum mencerminkan mahasiswa MIT. Tapi biarlah, aku sedang tak ingin memikirkannya, Prof. Hari ini aku ingin bergembira. Karena hari ini, Ahh..sudah lama aku merindukannya. Mengenang lagi memori beberapa tahun yang lalu, saat bunda berhasil membuatku, untuk pertama kalinya bermimpi besar.

Seorang pramugari menawari ku minuman hangat. Sepertinya ia tahu, cuaca seperti ini tak akan mudah bagi orang asia yang terbiasa tinggal di iklim tropis. Meski sudah 2 tahun di Massachutes, Aku masih kesulitan beradaptasi dengan iklim di sini yang sangat ekstreme.
“Yes,Please. I want a cup of coffee.”

“Sure,Please wait a minute” Lalu kemudian ia berlalu.

Waktu terasa begitu lama dalam dingin yang menusuk hingga ke tulang. Akhirnya pesawat yang kami tumpangi mendarat juga di Bandara Washington Dulles.

Perjalanan dilanjutkan dengan minibus ke Washington DC. Aku tak begitu menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Bangunan-bangunan elit dan orang-orang di sini tak cukup mampu menarik perhatianku seperti biasa. Jantungku terlanjur berdegub kencang. Dan iramanya semakin tak teratur ketika bus kami berhenti di depan sebuah bangunan megah. Di dinding bagian depannya tergantung bendera Amerika Serikat, dan di sebelahnya ada lambang lembaga yang tak asing lagi untukku. National Aeronautics and Space Administration. NASA, kawan. Aku sampai juga di sini. Bukan sebagai dokter untuk misi luar angkasa. Namun, dalam rangka research teknologi.

Aku harus bilang apa,kawan. Semua yang ada di sini membuatku kagum tak bisa berkata-kata. Teknologi yang mereka gunakan benar-benar canggih. Mereka mengontrol alat komunikasi jarak jauh melalui satelit, yang manfaatnya bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengembangkan peralatan luar angkasa dengan memanfaatkan kecerdasan buatan. Mereka mengembangkan sistem navigasi roket. Mereka membuat pengiriman data dengan sinar laser, sehingga dapat mengunduh informasi hingga 622 juta bits per detik. Mereka membuat robot-robot tanpa awak.

Dan semuanya tentang ‘mereka’ membuatku semakin bersyukur mengambil jurusan Informatika. Hampir semua yang diterapkan dalam teknologi itu, ada peran informatika. Ada harapan yang terbersit, jika tak bisa menjalankan misi luar angkasa, setidaknya adalah penemuanku yang berhasil sampai di luar angkasa. Lalu wajah Professor menjadi begitu hangat dengan senyum yang sumringah.

Teleponku berdering. Dari teman lama di Padang.

“Ara,, Apa Kabar?”

“Masih sangat inginkah ke Palestina?”

“Kami akan ke sana bulan depan, Mau ikut..?”

“Tentu” Jawabku singkat. Dan butiran-butiran bening itu sudah tumpah lebih dulu sebelum aku bisa berkata-kata. Palestina.

~~ Ara Nabilla ~~
Padang, 25 November 2015

Aku, Aqila, dan Diary Mbak Sofi


Sudah pukul 00.30 dini hari, terhitung 3 jam selepas tarawih dan aku masih berkutat dengan deretan kode php di layar notebook. Lelah dan kantuk menyerang, namun belum juga ada titik terang dari program yang ku buat. Semakin gelisah ku rasa, karena program ini harus ku perlihatkan pada dosen pembimbing pagi nanti.

“Kok belum tidur,tan?” sapa Aqila, gadis manis dengan lesung di pipi kanannya.

Aku diam, tetap sibuk dengan listing code ku.

“Tidurlah dulu, itu bisa diselesaiin nanti”

“Duluanlah, gag sempat tidur” jawabku ketus.

“Mau ditemenin?”

Hening….”Udah tidur aja lah, Ini penting. Mesti selesai pagi ini,tau?”Suaraku meninggi. Ku lihat sepintas mimik wajah Aqila berubah.

“Ya udah, biasa aja. Gag perlu nyolot juga kali.”

Tidak tidur semalaman membuat keseimbanganku terganggu. Ditambah lagi, deraan kantuk yang sangat, memaksaku tidur sebentar selepas subuh. Alhasil, aku mulai demam dan pusing. Tapi janji pukul 09.00 itu terus menari-nari di pelupuk mata. Ku paksakan juga ke kampus, walau kondisi tubuh kurang fit.

Ku dapati Aqila sudah larut dalam tilawah Al-Qur’annya di meja bundar, gazebo kampus tempat kami biasa ngumpul dengan yang lain, bercerita, menunggu dosen, atau sekedar menghitungi kendaraan yang lalu lalang di depan, kurang kerjaan. Ah, ada sesal yang menyelinap. Mengapa seketus itu ku jawab tawarannya? Bukankah maksud Aqila baik? Ia hanya ingin menemani malam ku, Lalu,….Ah,entahlah.

Pak Irfan dengan setelan necisnya tampak berjalan di koridor kampus dan masuk ke ruangan. Buru-buru kuhampiri beliau,dan menanyai kabarnya.

“Ah, Titania, sudah sampai mana programnya?”

“Ini,pak. Pakai laravel jadinya, Pak. Aplikasinya lebih powerfull ” Ku perlihatkan projek semalam, dan ku presentasikan segagah mungkin. Berharap projek ku disetujui ke tahap selanjutnya.

“Begini,Titan. Kalau bisa coba dilengkapi. Lebih bagus lagi kalau sistem ini bisa mempertimbangkan faktor-faktor lain, kan gitu?”

“Oh, Iya, Pak” sedikit tersenyum kecut.

“Lengkapi yang kurang tadi,ya? Harus belajar lebih lagi. Untuk mencapai hasil yang terbaik butuh perjuangan, butuh pengorbanan”

Setelah sedikit bercengkrama, aku sampaikan terima kasih kepada pak Irfan dan mohon undur diri.

“Huft,, Belum lagi.” Pikirku.

Melengkapi projek dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain bukan perkara mudah. Dengan kemampuanku yang pas-pasan, aku ragu bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat. Ahh.. Resolusi ku nomor 13,, Wisuda September tahun ini… Rasanya semakin samar.

Aqila masih disana,sendiri. Bermain-main dengan ujung jilbabnya. Sesaat memandang ke arah jalan. Lalu tertunduk. Entah apa yang ditunggunya. Entah apa yang dipikirkannya. Aku tak pernah benar-benar mengenal aqila.

Aku masih ragu mendekat. Takut ia-nya tak nyaman. Ada batas yang tak nyata sejak kejadian malam tadi. Kuputuskan tetap disini. Memandanginya dari sudut yang lain. Lalu bersiap pulang.

“Gimana bimbingannya,tan? Sukses? Kompre lagi ni?”

“Mbak…. Banyak lagi yang mesti diperbaiki”Aku merengek ke mbak Sofi, kakak tertua di kontrakan kami.

“Ah, gag apa-apa. Itu prosesnya,kan? Nikmati aja.. Insyaallah kalau Titan ikhlas, akan ada banyak kebaikan di sana. Percaya deh sama mbak…”

“Nggak ah, nambah donk rukun imannya..”

“Kalau percaya sama Allah dan Qadha Qadar kan wajib…” Mbak Sofi mencubit pinggangku kecil. “ Denger ya, tugas kita cuma ikhtiar dan doa. Udah itu aja. Perkara eksekusi udah ada ahlinya. Tawakal aja.”

“He..he, Iya mbak ku sayang…”

“Eh Tan, Aqila mana ya? Mbak ada janji sama Aqila”

“Nggak tau tuu, tadi pagi sih di kampus. Mau kemana mbak? Mesti ya sama Aqila?”

“Kok nanya nya gitu? Mbak mau ke pasar, ada yang mau dibeli. Kebetulan Aqila juga mau ke sana. Yaudah barengan aja.” Mbak Sofi mencoba menjelaskan.

“Ooh” jawabku seolah paham. Namun dalam hati,aku berontak. Aku cemburu. Cemburu karena sejujurnya aku merasa lebih baik dari Aqila. Dan..,Yah, tiap-tiap hati memiliki kecenderungannya, kawan. Aku berharap lebih pada mbak Sofi. Mbak Sofi, mbak yang selalu ada untukku, bersedia mendengar keluh kesahku, yang selalu mendamaikan hatiku, yang selalu memperhatikanku, sekarang pergi dengan Aqila?

Demamku semakin menjadi. Keringat dingin bercucuran. Bersin-bersin tak terhindarkan. Tak ada yang ingin kulakukan. Hanya tiduran, dan sekali keluar kamar untuk shalat. Aqila belum pulang, berarti Mbak Sofi juga belum. Ku lirik jam dinding, pukul 17.30

“Tan, ikut ngabuburit yuk..?” Fani, berdiri di samping pintu kamarku, siap untuk pergi ngabuburit.

“Sorry,Fan. Nggak bisa ikut ni, lagi kurang sehat, pengen di rumah aja”

“Kenapa Tan? Astaghfirullah, panas tan?” Fani menghampiri dan mendaratkan tangannya di keningku.

“Nggak apa, demam biasa aja kok, beneran. Semalem nggak tidur soalnya.”

“Beneran ni nggak apa?”

“Serius, Nggak apa. Hati-hati ya” Kataku mencoba menenangkan Fani. Fani mohon izin, dan kini aku sendirian di kontrakan 4 kamar kami.

“Assalamualaikum” terdengar ketukan di pintu depan.

“Waalaikumussalam” Aku beranjak untuk membuka pintu. Aqila dan Mbak Sofi pulang dengan banyak bawaan di tangan.

“Sendirian aja,tan? Yang lain pada kemana?” Tanya Aqila.

“Biasa, ada yang buka bareng, ngabuburit, sibuk di kampus.” Kataku sekenanya. Lalu kembali ke kamar.

“Alhamdulillah ya mbak.. hari-hari biasa jarang angkot nyetel musik islami, karena ramadhan alhamdulillah hiburannya jadi lebih mendidik, Ramadhan Mubarok” Lokasi kamarku cukup strategis untuk mendengar percakapan keduanya dari ruang tamu.

“Iya, kan enak tu dengernya. Damai.. tentram pula”

“Musik-musik islami juga gag kalah asik, kan mbak?”

“Iyya.. Doain aja, Semoga sopirnya commit.”

He he, Aamiin…”

“Titan, ke depan yuk? Nungguin buka..” Mbak Sofi menjemput ke kamar. “Are you OK?”

Aku senyum dengan bibir yang tidak simetris. Lalu beranjak malas.

“Demam dikit,mbak” balasku jutek.

“Jangan diikuti demamnya. Mesti dilawan.. yah?” Mbak Sofi tersenyum, lalu diam sejenak. ”Titan marah?”

“Enggak, apa untungnya marah?”

“Iya, gag ada untungnya kan?” Kata Mbak Sofi, sepertinya sedang menyindirku.

Ah.. hari ini benar-benar…

——-

Handphone ku bergetar, sebuah pesan singkat masuk.

“Assalamualaikum. Insyaallah ukhti diamanahkan sebagai instruktur pesantren ramadhan yang akan berlangsung pada 1 – 14 Juli 2015. Diharapkan kesediaan dan kehadirannya pada Technical Meeting,besok 29 Juni 2015 pukul 16.30 di Aula Fakultas Kedokteran. Terima kasih”

Aku? Bagaimana bisa? Siapa yang ngedaftarin? Satu-satunya alasanku tetap bertahan di kota ini adalah tugas akhirku. Dan sekarang diminta terlibat sebagai instruktur pesantren ramadhan? Jangankan mendaftarkan diri, membayangkan untuk ini pun tak pernah. Mengkoordinir anak-anak sekolah dasar hingga menengah atas? Lalu membimbing mereka mengenal islam lebih dalam? Di 2 minggu ramadhan ini? Rabbii,..what must I do?

Ada pergolakan antara logika dan hati. Logika memaksaku tetap fokus pada resolusi nomor 13. Dan hati,..?

Benar-benar buntu, Ku datangi mbak Sofi.

“Mbak..” merengek lagi.

“Hei,,kenapa? Udah baikan?”

“Bingung Mbak.. Dapat amanah nih jadi instruktur pesantren”

“Bagus dong? Kok bingung?”

“Males ah, Titan bertahan disini kan cuma untuk ngejar tugas akhirrr, 2 minggu itu lama mbak.. bisa selesai tugas akhir aku tu.. Tapi, mau nolak kok nggak enak..”

“Dicoba aja dulu, Mungkin Titan nggak suka, tapi mana tau itu yang baik buat Titan saat ini.
Insyaallah Allah akan ganti 2 minggu itu dengan sesuatu yang lebih baik nanti.”

“Hhhmm,,, Oke deh, coba dulu. Mbak, kira-kira yang ngedaftarin siapa ya? Mbak yaaa?” Aku bertanya menyelidik. Yang ditanya cengar cengir tak jelas.

Beberapa hari pertama menjadi instruktur pesantren, Expectasi: menyebalkan. Realita: menyebalkan. Perlu kesabaran lebih untuk membimbing siswa sekolah dasar. Sampai-sampai, Aku tak bisa lagi membedakan peran antara instruktur ramadhan dan pengasuh. Kulihat sama saja. Anak-anak itu berlarian, mengobrol,dan sesekali menjahili temannya.

Mbak Sofi setia memberi petuah setiap hari. Dan rekan-rekan sesama instruktur, perbincangan mereka selalu itu-itu saja, tentang bagaimana mendidik adik-adik di pesantren. Mau tak mau menjadi santapan setiap hari. Alhasil, hari-hari selanjutnya, aku mulai belajar, mengenal, memahami, mencari arti, bereksperimen dan sebagainya. Untungnya, aku punya cukup banyak koleksi ice breaking dan video edukasi. Mengawali pertemuan, ku ajak mereka bermain, kadang menonton sebuah cuplikan film lalu meminta mereka menyampaikan hikmah yang tersirat. Tak banyak memang materi yang tersampaikan. Tapi lebih dari itu, kehadiran mereka dan bagaimana memahamkan mereka, saat itu lebih penting. Pada akhirnya ku pahami. Mereka anak-anak. Wajar jika mereka meminta perhatian lebih.

“Mereka bukan jamaah malaikat. Porsi masing-masing nggak sama ya, tan…” Pesan Mbak Sofi. Saat itu, aku tak benar-benar paham maksudnya. Hingga suatu hari, kurasa aku bisa memahaminya. Gadis kecil itu bernama Dian. Ia anak yang patuh dan periang. Hari itu, tak seperti biasa, ia datang sangat terlambat. Ku tanya alasan keterlambatannya, Ia bilang ketiduran. Lalu ku hukum Dian dengan menyalin 15 surat pertama juz 30 sepulang pesantren. Cukuplah membelajarkan pentingnya tepat waktu. Awalnya ia tampak senang mengerjakan hukumannya, lalu tiba-tiba ia menitikkan air mata.

Dua kali kutanya mengapa menangis, ia jawab tak ada apa-apa. Ku coba lagi bertanya ketiga kalinya. “Ibu sakit, Kak” katanya.

Ku dengarkan penjelasannya dengan seksama. Ibunya sakit, ayahnya di pulau seberang tanpa kabar, dan Dian harus membantu mencukupi kebutuhan ibu dan adik-adiknya dengan berjualan sepulang sekolah. Ia masih menangis terisak “Kak, boleh tugasnya Dian bawa pulang?” Ya, Rabb aku sudah dzalim pada gadis kecil itu.

“Boleh, bawa tugasnya besok ya. sekarang Dian boleh pulang. Maaf ya, kakak nggak tau kalau Dian harus jualan lagi. Lain kali jangan terlambat. Titip salam buat ibu. Semoga ibu cepat sembuh”

“Iya kak, Insyaallah nggak terlambat lagi. Makasih kak”

Dua minggu ternyata waktu yang singkat, namun penuh makna. Sungguh tak rela melepasnya. Masih banyak yang bisa ku lakukan, yang sejatinya untuk menginsyafi betapa kerdil sikapku selama ini. Dan aku banyak belajar dari anak-anak itu,

“Diterima ya kak, makasih buat dua minggu ini” Saat penutupan, Dian menyerahkan sebuah bingkai foto buatannya. Sederhana memang, namun sangat penting buatku karena itu pemberian Dian. Ah.. Mbak Sofi lihatlah gadis kecil ini, bingkisan dari surga.

Terinspirasi oleh pemberian Dian, sebuah kado kecil walau tak seberapa setidaknya cukup sebagai ucapan terima kasih atas saran dan nasehat mbak Sofi selama ini. Ku pilih sebuah mukena parasut warna ungu. Semoga Mbak Sofi suka.

Aku tak cukup berani memberikan kado itu secara langsung. Jadi, ku tunggu waktu yang tepat untuk menaruhnya di meja Mbak Sofi. Ya, waktu tarawih adalah waktu yang tepat, pikirku.

Kontrakan sudah lengang. Yang lain telah pergi ke masjid. Waktunya beraksi.

Aku masuk ke kamar Mbak Sofi. Hahay, laci mejanya terbuka, Langsung saja kumasukkan mukena berbungkus kertas kado ke dalamnya. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah buku pribadi. Diary sepertinya. Usilku berguna juga pada saat-saat seperti ini. Kuambil buku itu, ku buka lembar pertama. Bukan milik Mbak Sofi ternyata. Aku mulai dag dig dug membuka halaman-halaman berikutnya.

08/01/2014      : Mbak, Kenapa ya? Kok susah amat deket ama Titan? Padahal Titan yang pertama ku kenal disini. Sekelas juga lho..?

01/05/2014      : Mbak, Hari ini Fani ulang tahun. Pinjam uang dulu,boleh? Buat beli kado..

24/10/2014      : Nayla kelihatan capek banget, Mbak. Fani sama Titan juga, tolong tanyain ya Mbak? Semangat Mbak sayang…

06/02/2015      : Med Milad Mbak Sofi yang cuantik.. Maaf kadonya nyusul ya..

27/06/2015      : Mbak, titan nggak tidur semalaman ngerjain Tugas Akhirnya.. kasih semangat terus dong.. Kami lagi diem-dieman ni.

28/06/2015      : Titan bilang apa, Mbak? Marah ya? Diem-diem aja ya Mbak, Aqila yang ngedaftarin.. Soal nayla… Mbak paham kan?

04/07/2015      : Kayaknya yang pada jadi instruktur pesantren butuh suntikan deh Mbak..

Aku terpana, Aku terharu tak dapat berkata-kata. Ah Aqila, Aku tak pernah menyadari engkau seistimewa itu.

Serba Serbi Tentang Wara’


Dalam sebuah riwayat, Ibnu as-Samâk berkata: “Pernah Umar bin Abdul Aziz membagi-bagi apel kepada orang-orang. Kemudian datang putranya dan mengambil apel dari apel yang dibagi-bagikannya. Umar pun merenggut tangan putranya dan mengambil kembali apel tersebut lalu mengembalikannya bersama apel-apel lain. Putranya lalu mengadu kepada ibunya. Ibunya bertanya:

“Ada apa denganmu, putraku?”

Putranyapun menyampaikan apa yang terjadi. Maka istrinya memberi putranya uang dua dirham untuk membeli apel sehingga dia dan putranya dapat makan apel, lalu menyisakan lebihannya untuk Umar. Ketika Umar selesai dari pekerjaannya diapun masuk ke dalam rumah. Istrinya menyodorkan satu cawan apel kepadanya. Umar bertanya:

“Dari mana kau dapatkan apel ini, wahai Fatimah?”

Istrinya menyampaikan kisahnya. Umar senang dan berkata:

“Semoga Allah merahmatimu. Sungguh akupun sebenarnya berselera dengan apel tersebut.”
Dalam riwayat lain, Qoza’ah berkata : “Aku melihat Ibnu Umar (Abdullah Bin Umar bin Khattab) memiliki baju yang berbahan kaku. Maka akupun menawarkan kepadanya pakaian yang berbahan lunak:

“Aku bawakan untukmu pakaian yang berbahan lunak yang dibuat di Khurasan agar aku enak memandangmu”

“Perlihatkan kepadaku! Pinta Ibnu Umar.

Ibnu Umar meremas kain itu seraya bertanya:

“Apakah ini sutra?”

“Tidak, ia terbuat dari katun.” Jelasku.

Ibnu Umar bekata:

“Aku khawatir jika mengenakannya akan menjadikanku sombong dan tinggi hati, seraya membaca firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.an-Nisaa: 36).

Wara ??

Wara’ secara sederhana berarti meninggalkan perkara haram dan syubhat. Para ulama seringkali memaksudkan wara’ dalam hal meninggalkan perkara syubhat dan perkara mubah yang berlebih-lebihan.

Landasan Sikap Wara

Di antara tanda yang mendasar bagi orang-orang yang wara’ adalah kehati-hatian mereka yang luar biasa dari sesuatu yang haram dan tidak adanya keberanian mereka untuk maju kepada sesuatu yang bisa membawa kepada yang haram. Dan dalam hal itu, Rasulullah r bersabda:

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَيَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ, فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ.

Sesungguhnya yang halal dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya banyak hal-hal syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.

Diriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, ‘Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas. Sedangkan di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar (syubhat), tidak diketahui oleh banyak orang; siapa saja yang menjauhi syubhat tersebut, maka ia telah berlepas diri bagi agama dan kehormatannya, dan siapa saja yang terjerumus ke hal yang syubhat, maka berarti ia telah terjerumus ke dalam hal yang haram, ibarat seorang penggembala yang menggembala di seputar pagar larangan di mana hampir saja gembalanya memakan tumbuhan yang ada di dalamnya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki pagar larangan. Ketahuilah bahwa pagar larangan Allah Subhannahu wa Ta’ala adalah hal-hal yang diharamkan nya. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging; bila ia baik, maka baiklah seluruh jasad dan bila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, bahwa ia adalah qalbu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Keutamaan/Manfaat Sikap Wara

Mengenai keutamaan sifat wara’ telah disebutkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

فضل العلم خير من فضل العبادة وخير دينكم الورع

Keutamaan menuntut ilmu itu lebih dari keutamaan banyak ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’” (HR. Ath Thobroni dalam Al Awsath, Al Bazzar dengan sanad yang hasan. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 68 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat berharga pada Abu Hurairah,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحَسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi sebaik-baiknya ahli ibadah. Jadilah orang yang qona’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah), maka engkau akan menjadi orang yang benar-benar bersyukur. Sukailah sesuatu pada manusia sebagaimana engkau suka jika ia ada pada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi seorang mukmin yang baik. Berbuat baiklah pada tetanggamu, maka engkau akan menjadi muslim sejati. Kurangilah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah no. 4217. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Di antara tanda-tanda sifat wara’ adalah:

  1. Sangat berhati-hati dari yang haram dan syubhat.
  2. Membuat pembatas di antaranya dan yang dilarang.
  3. Menjauhi semua yang diragukan.
  4. Tidak berlebihan dalam persoalan yang boleh.
  5. Tidak memberikan fatwa tanpa berdasarkan ilmu.
  6. Meninggalkan perkara yang tidak berguna.

Ada tiga hal yang kita tidak boleh bersikap wara’ terhadapnya.

  1. Manfaatnya yang sebanding.
  2. Manfaatnya lebih kuat
  3. Seluruhnya adalah manfaat.

(Dari Berbagai Sumber)

Istimewanya Shalat


 “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda : “…Seandainya orang-orang mengetahui pahala Azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” (HR. Bukhari).

Nah, pada kesempatan ini, kita akan kupas tuntas tentang istimewanya gerakan dan bacaan shalat,serta keutamaan shalat tepat waktu. Harapannya, bisa menjadi pengingat ketika lupa, atau sekedar motivasi untuk terus shalat tepat waktu secara khusyu’.. Ok, Lets Check it out…

Sholat merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada saat Isra dan Mi’raj.

Disanalah Rasulullah Muhammad SAW mendapat perintah untuk menjalankan shalat sehari 5 waktu.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah bersabda :”…Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa as. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”. Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa as hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”.(HR Muslim).
Betapa tinggi dan istimewanya kedudukan shalat dimata Allah SWT. Untuk mengerjakan perintah ini sesungguhnya diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang benar agar shalat tersebut diterima dan mendapatkan ridho’ Allah SWT.

Ketika shalat, kita diwajibkan untuk membaca surah Al-Fatihah. Surat ini juga dinamai Ummul-Quran yang berarti ibu atau inti Quran. Membaca Al-Fatihah dalam shalat adalah rukun shalat. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :“Barangsiapa yang mendirikan shalat tanpa membaca Ummul-Quran maka shalatnya tidak sempurna”; “Tidaklah berpahala shalat yang didalamnya tidak dibaca Ummul-Quran”.
Allah bersabda :”Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung”. (QS.Al-hijr(15):87).
Surat ini memiliki makna yang amat padat dan mendalam; suatu penghambaan yang dimulai dengan menyebut sifat utamanya, yaitu Pengasih dan Penyayang, pujian yang hanya milik-Nya, yang menguasai hari Pembalasan, yang hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan agar kita tidak tersesat, memohon hidayah dan bimbingan sebagaimana yang telah Ia berikan kepada para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh dan memohon agar kita terhindar dari jalan kebathilan, sebagaimana yang ditempuh kaum Yahudi yang dimurkai-Nya karena tidak memiliki amal dan banyak membunuh para nabi maupun kaum Nasrani yang tersesat karena tidak memiliki pengetahuan yang benar. Jadi sesungguhnya jalan yang dikendaki dan diridho’i-Nya adalah jalan yang berdasarkan pengetahuan yang benar beserta pengamalannya, bukan hanya salah satunya.

Bacaan Syahadat dalam shalat, bacaan yang diucapkan minimal 9 kali dalam sehari dimaksudkan agar kita selalu ingat akan janji untuk hanya menyembah kepada-Nya dan mengakui Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.

Makna dibalik ucapan “Allahu Akbar” yang mengawali sahnya shalat seseorang yang berarti “Allah Maha Besar” bila direnungkan dengan penuh kesadaran, sesungguhnya mengandung hikmah suatu penghambaan mutlak hanya kepada-Nya. Dialah yang Maha Besar, kita, manusia adalah kecil. Apapun yang terjadi pada diri kita ini sesungguhnya atas izin dan kehendak-Nya. Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Ilmu yang kita miliki tidak ada artinya dengan apa yang dimiliki-Nya. Semua yang ada pada kita sesungguhnya hanya titipan-Nya yang pada saatnya nanti harus dikembalikan dan dipertanggung-jawabkan. Bahkan kitapun tidak memiliki kuasa untuk menolak ketika Ia memanggil kita untuk kembali kepada-Nya dimanapun dan dalam keadaan apapun kita berada.
Bacaan Allahu-Akbar ini terus kita ulang-ulang paling tidak 5 kali dalam satu rakaat atau berarti minimal 85 kali dalam sehari. Bacaan ini dibaca setiap kali kita merubah gerakan. Hal ini memberi makna bahwa dalam keadaan apapun seperti berdiri, duduk, berbaring, sujud maupun ruku’, ketika kita dalam keadaan susah maupun senang, sakit maupun sehat kita harus senantiasa mengingat kebesaran-Nya.
Do’a yang kita ucapkan ketika dalam posisi duduk diantara dua sujud yang diucapkan minimal 17 kali dalam sehari sebagai berikut “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku dan cukupilah aku dan tinggikanlah aku dan berilah rizki padaku dan tunjukilah aku jalan dan berilah aku sehat dan maafkanlah aku”.

Posisi bersujud dengan menempelkan dahi ke permukaan terendah di muka bumi ini yaitu, tanah adalah melambangkan tanda syukur kita sebagai mahluk yang sangat kecil dan amat bergantung kepada Sang Pencipta Yang Maha Tinggi diatas sana.

Shalat ditutup dengan membaca Tahiyat. Bacaan ini berfungsi untuk mempertegas dan mengulang ikrar kita sebagai umat Islam, yaitu bacaan Syahadat. Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat dilanjutkan dengan shalawat nabi, memohon kepada Allah agar junjungan kita Muhammad saw mendapat tempat yang tinggi di sisi Allah sebagaimana nabi Ibrahim as. Ini adalah bentuk kecintaan kita kepada sang Rasul yang telah berjasa mengajak manusia kepada jalan yang benar, menjauhkan kita dari kesesatan dan kegelapan.

Disamping itu penting untuk diingat, bahwa Rasulullah, seorang nabi kesayangan yang walau telah dijanjikan baginya surga, beliau tidak hanya menjalankan shalat wajib yang 5 waktu saja. Beliau banyak mengerjakan shalat sunnah seperti shalat rawatib, yaitu shalat sunah yang menyertai shalat wajib baik yang dilaksanakan sebelum maupun sesudah shalat wajib, shalat duha, shalat qiyamul lail, tahajud maupun shalat sunnah lainnya.

  1. TAKBIRATUL IHRAM
    Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.
  1. RUKUK
    Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.
    Manfaat: Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulangbelakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.
  1. I’TIDAL
    Manfaat: Itidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.
  2. SUJUD
    Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.
  3. DUDUK
    Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.
    Manfaat: Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga. kelenturan
    dan kekuatan organ-organ gerak kita.
  4. SALAM
    Manfaat: Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah. BERIBADAH secara, kontinyu bukan saja menyuburkan iman, tetapi mempercantik diri wanita luar dan dalam.
    PACU KECERDASAN

Gerakan sujud dalam salat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof . Sholeh, gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa? Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan darah. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan. Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry , AS. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud.

PERINDAH POSTUR

Gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching) . Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan salat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan. Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

 

 

MUDAHKAN PERSALINAN

Masih dalam pose sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

PERBAIKI KESUBURAN

Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam salat ada dua macam sikap duduk, yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih.

Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi! ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

 

KEUTAMAAN SHALAT TEPAT WAKTU

Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

Utsman bin ‘Affan RA berkata; “Barang siapa selalu mengerjakan shalat lima waktu tepat pada waktu utamanya, maka Allah akan memuliakannya dengan sembilan macam kemuliaan, yaitu :

  1. Dicintai Allah
  2. Badannya selalu sehat;
  3. Keberadaannya selalu dijaga malaikat;
  4. Rumahnya diberkahi;
  5. Wajahnya menampakkan jati diri orang shalih;
  6. Hatinya dilunakkan oleh Allah;
  7. Dia akan menyeberang Shirath (jembatan di atas neraka) seperti kilat;
  8. dia akan diselamatkan Allah dari api neraka;
  9. Allah Akan menempatkannya di surga kelak bertetangga dengan orang-orang yang tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula bersedih hati”

WAKTU SUBUH

Pada waktu ini, alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok). Dalam fisiologi, tiroid mempunyai pengaruh terhadap sistem metabolisme tubuh manusia. Warna biru muda juga mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rezeki dan cara berkomunikasi. Mereka yang masih tertidur pulas pada waktu Subuh akan menghadapi masalah rezeki dan komunikasi. Hal ini terjadi kerana tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika ruh dan jasad masih tertidur. Pada saat Azan Subuh berkumandang, tenaga alam ini berada pada tingkatan optimum. Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pada waktu ruku ‘dan sujud.

WAKTU ZUHUR

Warna alam menguning dan berpengaruh terhadap perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga mempunyai pengaruh terhadap hati. Di samping itu warna kuning ini juga mempunyai rahasia yang berkaitan dengan keceriaan seseorang. Jadi bagi mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan shalat Zuhur berulang-ulang kali, akan menghadapi masalah dalam sistem pencernaan  serta berkurang keceriaanya.

WAKTU ASYAR

Warna alam berubah menjadi oranye. Hal ini mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap keadaan prostat, uretus, ovarium, testis dan sistem pembiakan secara keseluruhan. Warna oranye  di alam juga  dapat  mempengaruhi kreativitas seseorang. Orang yang kerap tertinggal waktu Asyar akan menurun daya kreativitasnya. Di samping itu, organ-organ pembiakan juga akan kehilangan tenaga positif dari warna alam tersebut.
MENJELANG MAGHRIB

Warna alam berubah menjadi merah. Pada waktu ini kita kerap mendengar nasihat orang-orang tua agar kita tidak berada di luar rumah. Nasihat tersebut ada benarnya, karana pada saat Maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Pada waktu ini jin dan iblis amat bertenaga karana mereka bergema atau ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan solat Maghrib terlebih dahulu. Hal ini lebih baik dan lebih selamat karana pada waktu ini, banyak interferensi  atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama dan bisa menimbulkan fatamorgana yang  dapat  merusakkan penglihatan kita.

KETIKA WAKTU ISYA’

Alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap. Waktu Isya ‘menyimpan rahasia ketenteraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem  kerja  otak. Mereka yang kerap ketinggalan waktu Isya ‘akan sering merasa gelisah. Ketika alam mulai diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk merehatkan tubuh ini. Dengan tidur di waktu tersebut, keadaan jiwa kita berada pada gelombang Delta dengan frekuensi di bawah 4 Hz dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu rehat. Selepas tengah malam, alam mula bersinar kembali dengan warna-warna putih, merah jambu, dan kemudian ungu. Perubahan warna ini selaras dengan frekuensi kelenjar Pineal (otak kecil), kelenjar Pituitari  (bawah otak), thalamus, dan hypothalamus. Maka kita sepatutnya bangun dari tidur, dan pada waktu-waktu ini kita mengerjakan solat malam.

So,
Masih mau shalat buru-buru?
Masih niat nunda-nunda shalat?
Gag Kereen…

(Diringkas dari berbagai sumber)

Aside

miracle of believe


Sebuah kisah penuh makna, dari ibunda nabi isa as, Maryam. Mengantarkan kita pada sebuah pemaknaan bahwa keyakinan yang tak lagi utuh, bisa jadi menambahkan peluh pada jalan ikhtiyar yang harus kita tempuh.  (Salim A.Fillah)

Cont..

 

“Pendidikan Yang Memanusiakan Manusia”


Pendidikan, sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003   tentang SISDIKNAS,adalah

usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Terlepas dari pengertiannya sebagai suatu usaha sadar, pada hakikatnya Pendidikan adalah kebutuhan manusia. Kebutuhan yang sangat perlu diupayakan,karena pendidikan merupakan sarana pembuktian kemanusiawian manusia, yang membedakannya dari  makhluk lain seperti  hewan, tumbuhan, atau malaikat.

Selain itu, dalam menjalani kehidupannya, manusia harus berilmu. Kita tidak bisa mengerjakan suatu hal  dengan hasil yang memuaskan,bila tidak tahu ilmunya. Bisa jadi yang kita lakukan mengecewakan, sia-sia,  atau malah membuat masalah baru. Contoh, sewaktu SD  dulu,  adalah masa-masa yang menyenangkan ya? Bermain sesuka hati, belanja semau kita, main lagi, hidup senang, hati pun riang, terserah apa kata orang, yang penting kitanya senang. Buang sampah sembarangan di jalan, di selokan, atau terkadang menyimpannya di laci meja sekolah .

Barangkali saat itu, kita belum tahu bahwa membuang sampah sembarangan dapat mengganggu keindahan, atau mengganggu pengelolaan limbah dan menyebabkan banjir. Barangkali saat itu, kita belum tahu, bahwa menyimpan sampah di laci meja, bisa menyebabkan kuman berkembang biak, tentunya bisa menyebabkan penyakit.

Ya, saat itu kita belum tahu.

Maka disanalah pentingnya pendidikan. Bahwa pendidikan bertujuan untuk mengubah perilaku manusia, dari yang belum tahu menjadi tahu, dan dari yang sudah tahu, agar menjadi lebih baik lagi. Dengan pendidikan kita belajar, bahwa sampah harus dibuang ditempat sampah, bahwa kuman dan lalat berkembang biak di tempat-tempat yang kotor. Pendidikan menuntut kita Bukan hanya tahu, namun juga menerapkannya dalam keseharian.

Membangun Pendidikan

Membangun pendidikan. Memangnya ada apa dengan pendidikan kita? Tertidur? Atau karena perkembangan teknologi, lantas merasa termudahkan  dan kemudian  terlena ? atau masih serupa anak bawang? Mungkin saja.

Ia memanggil  peran-peran kita untuk membangunnya lagi.

Sesungguhnya, kuatnya suatu pendidikan dimulai dari kuatnya dasar pendidikan itu sendiri. Masing-masing pihak yang terlibat dalam pendidikan harus tahu apa pentingnya pendidikan, apa untungnya menjadi terdidik,dan apa tujuan  pendidikan.

to be cont…